Museum Batik Tiga Negeri Lasem
“Lasem bukan sekadar kota lama, ia adalah persilangan jalan antara Jawa, Islam, Cina, Eropa, dan dunia. Dan batiknya adalah bukti dari silang budaya itu.”


Pembatik Lasem jarang memiliki arsip tertulis karena tradisi lisan. Penemuan cetak biru ini membuktikan tradisi dokumentasi visual profesional yang merevolusi penyelamatan motif klasik.
Terselip dalam buku tulis berlabel ‘Johanna Tjoa, Batavia’, ditemukan 14 lembar cetak biru sketsa motif batik ukuran 32×20 cm bergambar cerah karya tangan Johanna Tjoa awal abad ke-20.
Saat Agresi Militer Belanda I (1947), Johanna Tjoa memimpin Dapur Umum (Badan Pekerdja Tionghoa & PERWARI). Beliau menyiapkan nasi bungkus dari dapur Rumah Batik Lasem untuk pejuang TNI.

Kamar Batik Kuno Abad 19 – Awal Abad 20
“Di ruang ini, Anda berada di antara kain-kain yang telah menyeberangi lautan. Kain-kain yang dipajang bukan sekadar koleksi, setiap lembarnya adalah dokumen sejarah.”
Kain Sembagi (Pasar Sumatra)
Diproduksi khusus memenuhi selera pasar Sumatra (Jambi, Palembang, Lampung) untuk pakaian adat dan upacara pernikahan/khitanan.
Berakar dari kain Chintz (Palampore) India dengan motif bunga hayat dan sulur. Memiliki ciri kombinasi warna merah Lasem menyala dengan latar putih bersih atau krem yang rapat.


Melanglang Buana (Arsip Kengpo)
Surat kabar Kengpo mencatat export sarung Lasem mencapai f. 300.000 / Rp 3.000.000 per tahun pada era 1920-an (setara ratusan miliar rupiah saat ini).
Kain Lasem sangat populer dan dicari hingga ke Tanah Sebrang, Singapura, dan jajahan Inggris.
Tokwi: Penutup Altar Tionghoa Rasa Jawa
Kain batik tulis penutup altar berukuran 100×90 cm ini disebut Tokwi (Bahasa Hokkian) atau Zhuo Wei (桌围). Bermula dari tradisi kain altar sulaman Dinasti Tang (abad 8-9 M) yang membawa simbolis Taois dan Buddhis.
Seiring migrasi Peranakan ke Asia Tenggara, Tokwi bertransformasi menjadi Tokwi Batik — karya cipta ikonik yang lahir murni dari bumi Nusantara.

